BeritaNasional

Ketua DPD RI Sebut Pendidikan Guru Berasrama Masih Menjadi Pilihan Terbaik

Redaksi Utama
15/03/2021, 17:03 WIB
Last Updated 2021-03-21T06:26:37Z

JAKARTA
– Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti berharap sistem pendidikan guru berasrama di Indonesia, terutama yang digagas dan diperjuangkan oleh Perkumpulan Perguruan Tinggi Kependidikan Negeri, dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan. 

"Kami di DPD RI, khususnya melalui Komite III yang membidangi Pendidikan, tentu akan selalu terbuka untuk berdiskusi dan berdialog," katanya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI itu menambahkan, model pendidikan berasrama juga bentuk paling ideal untuk mendidik guru masa depan yang profesional. 

"Sebab pendidikan berasrama memungkinkan untuk membentuk karakter guru secara intensif. Sebab, kode etik keprofesionalan guru dianggap perlu diajarkan lewat pendidikan berasrama," katanya Senin (15/3/2021) di Jakarta.

Penilaian itu disampaikan LaNyalla saat memberikan arahan dalam Focus Group Discussion Perkumpulan Perguruan Tinggi Kependidikan Negeri (PPTKN), dengan tema; 'Pendidikan Guru Berasrama'.

Selain Ketua DPD RI, kegiatan ini juga diikuti Ketua PPTKN Profesor Ganefri, Sekretaris PPTKN, Profesor Fathur Rohman, serta sejumlah rektor perguruan tinggi kependidikan negeri. Hadir juga dalam FGD tersebut Dirjen Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto. 

Hanya saja, mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur itu mengingatkan jika sekolah berasrama adalah sekolah dengan durasi proses pendidikan yang lama, maka diperlukan tenaga pengajar yang lebih banyak. 

"Kasus yang dikaji menunjukkan bahwa kisaran rasio guru dengan peserta didik adalah 1 banding 5. Selain tenaga pendidik, juga diperlukan pembina asrama dan berdasarkan kasus yang dikaji, kisaran rasio pembina asrama dengan peserta didik adalah 1 banding 10," urainya. 

Tetapi, LaNyalla mengingatkan, asrama khusus calon guru tak boleh diwujudkan asal-asalan. Menurutnya, harus ada regulasi yang mengatur peserta asrama. Dari bangun tidur, hingga tidur kembali. 

"Kurikulum non-akademik di asrama juga wajib dijadikan pertimbangan kelulusan untuk menanamkan karakter pendidik yang cakap kepribadian dan sosial. Karena ukuran keberhasilan pendidikan guru berasrama harus dinilai secara komprehensif. Bukan hanya kecapakan keilmuan. Tetapi guru berasrama harus mampu menjadi tauladan. Dengan karakter dan budi pekerti yang mampu  menjadi acuan anak didik," ujarnya. 

Karena, lanjut Senator asal Jawa Timur itu, nantinya para guru tersebut akan menjadi penentu dalam menjawab krisis multidimensi yang kini melanda generasi muda di Indonesia. 

"Diakui atau tidak, ada nilai-nilai luhur dan tradisi bangsa yang perlahan mulai memudar. Seperti nilai kejujuran, kesantunan, kebersamaan, dan religius. Digantikan oleh budaya baru yang mengarah pada kehidupan yang hedonistik, materialistik, dan individualistik. Hal itu makin diperkuat dengan rentannya generasi muda terhadap pengaruh globalisasi," urainya.

Maka, output guru berasrama harus punya keahlian dalam subyek matter, pintar merancang perangkat pembelajaran, menguasai seni mengajar, dan pandai menimbang atau melakukan evaluasi atas anak didik. "Dan yang terpenting memiliki karakter dan bisa menjadi tauladan," pungkasnya. 

TrendingMore